Ibu Nati, Lansia Sebatang Kara di Pelosok Tanggul yang Terlupakan

Filesatu.co.id, Jember | Di tengah deru pembangunan Kabupaten Jember di awal tahun 2026, sebuah potret pilu tersaji dari Dusun Sungai Tengah, Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul. Ibu Nati, seorang lansia berusia 76 tahun, kini hanya bisa pasrah menjalani sisa hidupnya di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak.

Bacaan Lainnya

Dinding rumahnya bukan terbuat dari tembok kokoh, melainkan anyaman bambu atau gedek yang kini sudah mulai lapuk dan berlubang di sana-sini. Saat angin kencang berembus atau hujan deras mengguyur wilayah Tanggul, hawa dingin dan tetesan air dengan mudah menembus celah-celah anyaman bambu tersebut, memaksa tubuh rentanya untuk terus bertahan dalam kedinginan.

 

Hidup Terisolasi Sebatang Kara

Kesedihan Ibu Nati kian mendalam sejak suaminya berpulang dua tahun silam. Sejak saat itu, praktis ia hidup sebatang kara tanpa ada sanak saudara yang menemani. Kondisinya kian memprihatinkan karena letak rumahnya yang terisolasi, berada di tengah area perkebunan dengan jarak sekitar 500 meter dari pemukiman tetangga terdekat.

 

“Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja beliau sangat kesulitan, apalagi untuk memperbaiki rumah. Kondisinya benar-benar memprihatinkan dan sangat tidak layak huni,” ujar salah seorang warga yang sesekali menjenguknya.

 

Desakan Bedah Rumah dari KJJT Jember

Kondisi Ibu Nati ini memantik keprihatinan dari Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) Jember. Humas KJJT Jember, Togas Irianto, yang meninjau langsung lokasi hunian Ibu Nati, menegaskan bahwa rumah tersebut sudah seharusnya masuk dalam prioritas program Bedah Rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari pemerintah.

 

Menurut Togas, rumah gedek milik Ibu Nati sudah tidak layak secara struktur dan kesehatan. Ia menilai, kehadiran pemerintah sangat dinantikan untuk memberikan “sentuhan” kemanusiaan bagi warga yang berada di titik buta jangkauan sosial ini.

 

“Kami dari KJJT Jember sangat berharap pemerintah daerah, baik melalui Dinas Sosial maupun instansi terkait, segera turun tangan. Ibu Nati butuh bantuan nyata, terutama perbaikan hunian yang lebih aman. Kondisi rumah gedeknya sudah sangat memprihatinkan,” tegas Togas Irianto saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).

 

Harapan Bantuan Tepat Sasaran

Lebih lanjut, Togas mengingatkan agar proses pendataan bantuan sosial di tahun 2026 ini dilakukan lebih teliti dan transparan. Ia tidak ingin warga yang benar-benar membutuhkan seperti Ibu Nati justru terabaikan hanya karena kendala administratif atau lokasi rumah yang terpencil.

 

“Kami menekankan agar bantuan pemerintah betul-betul tepat sasaran. Jangan sampai mereka yang hidup sebatang kara dan rumahnya hampir roboh seperti ini malah luput dari perhatian, sementara yang lebih mampu justru mendapat bantuan,” tambahnya.

 

Kini, nasib Ibu Nati bergantung pada kecepatan respon para pemangku kebijakan. Masyarakat berharap, sebelum cuaca buruk kembali menerjang, rumah gedek di pelosok Manggisan itu sudah mendapatkan perbaikan, sehingga Ibu Nati bisa menjalani masa tuanya dengan sedikit lebih hangat dan bermartabat.( Gam /Togas )

Tinggalkan Balasan