DPR Dijadikan Studio Konten, H. Wahyu Wibisana: Cermin Hilangnya Empati Wakil Rakyat

H. Wahyu Wibisana (paling kanan)
H. Wahyu Wibisana (paling kanan)

Filesatu.co.id, JAKARTA | SEBUAH video yang memperlihatkan seorang anggota DPR berjoget di tengah Sidang Tahunan MPR menuai kecaman publik. Tindakan ini dianggap merusak marwah lembaga legislatif dan menunjukkan hilangnya empati para wakil rakyat terhadap kondisi masyarakat.

H. Wahyu Wibisana, S.E., menilai aksi ini sebagai wujud ketidakpekaan moral di tengah penderitaan rakyat. Menurutnya, saat masyarakat berjuang menghadapi harga kebutuhan pokok yang melambung dan tingginya angka PHK, seorang wakil rakyat justru mempertontonkan tingkah laku yang terkesan meremehkan situasi.

Bacaan Lainnya

“Ketika rakyat berteriak menuntut keadilan, justru seorang wakil rakyat memperlihatkan sikap yang meremehkan dengan berjoget di ruang sidang resmi,” kritik Wahyu Wibisana. “Responnya yang santai, menyebut dirinya sebagai artis dan kreator konten, mencerminkan lemahnya rasa empati terhadap penderitaan rakyat.”

Wahyu menambahkan, anggota DPR mengemban amanah konstitusi untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan mengejar popularitas semata. Fenomena anggota parlemen yang merangkap sebagai selebritas harus ditinjau ulang.

“Harus ada batas tegas antara peran representatif sebagai wakil rakyat dengan gaya hidup pribadi yang berorientasi pada popularitas. Jika batas ini kabur, DPR akan kehilangan wibawanya,” lanjutnya.

Menurutnya, pernyataan seperti “emang ada DPR yang nggak ngonten” adalah cerminan pergeseran orientasi politisi yang kini lebih mementingkan citra pribadi ketimbang tanggung jawab kolektif. Padahal, rakyat membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar hiburan di media sosial.

Wahyu Wibisana juga menegaskan bahwa fenomena ini menjadi tantangan baru bagi demokrasi Indonesia, di mana politik kini lebih mengutamakan pertunjukan citra daripada substansi. “Joget di sidang mungkin terlihat sepele, tetapi bagi rakyat kecil yang sedang susah, itu adalah simbol hilangnya empati dan jauhnya jarak antara elit politik dengan kehidupan nyata,” pungkasnya.

Terakhir, ia menyerukan agar para wakil rakyat kembali meneguhkan komitmen etika dan mengutamakan kepentingan rakyat. “Politik adalah pengabdian, bukan panggung hiburan,” tandasnya.

 

Tinggalkan Balasan