Filesatu.co.id, Banyuwangi | Pemerintah Kecamatan Cluring tak tinggal diam menghadapi masalah stunting yang masih menghantui masa depan anak-anak di wilayahnya. Dipimpin langsung oleh Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani, mereka meluncurkan sebuah program inovatif bernama “Cluring Ceria” singkatan dari Cegah Stunting dengan Edukasi, Riset, Inovasi, dan Aksi.
Berbeda dengan program-program sebelumnya, Cluring Ceria bukan sekadar sosialisasi. Program ini menghadirkan pendekatan holistik yang menyentuh akar persoalan stunting, mulai dari minimnya pengetahuan keluarga soal gizi hingga keterbatasan akses layanan kesehatan.
“Stunting bukan cuma soal tinggi badan anak yang kurang. Ini soal masa depan generasi kita. Karena itu kami susun Cluring Ceria sebagai gerakan bersama dari, oleh, dan untuk masyarakat,” ujar Tri Wahyu.
Cluring Ceria berangkat dari pemetaan kondisi nyata di lapangan. Melalui riset lokal yang melibatkan puskesmas, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat, tim inovasi memetakan lokasi-lokasi rawan stunting dan risiko tinggi ibu hamil di setiap dusun. Dari data tersebut, lahirlah berbagai aksi nyata yang menyentuh langsung masyarakat.
Mulai dari Gerakan Dapur Sehat yang mengolah menu bergizi berbasis bahan pangan lokal, hingga lomba keluarga bebas stunting yang dikemas edukatif dan menyenangkan. Bahkan, program ini juga memanfaatkan teknologi melalui digitalisasi data posyandu dan kampanye edukasi via media sosial.
“Cluring Ceria mengusung nilai-nilai lokal, seperti edukasi berbasis pertunjukan tradisional dan pemanfaatan pangan lokal. Ini yang membuat masyarakat merasa dekat dan mau terlibat,” tambah Camat Tri Wahyu.
Salah satu keunggulan Cluring Ceria adalah kolaborasi multisektor. Pemerintah desa, puskesmas, PKK, guru, pelajar, hingga pemuda dilibatkan secara aktif dalam semua tahapan program, mulai dari penyuluhan hingga aksi lapangan.
Program ini juga membuka ruang pelatihan bagi kader dan relawan lokal, menjadikan mereka duta perubahan di tengah masyarakat.
“Tujuan kami bukan hanya menurunkan angka stunting, tetapi menciptakan keluarga yang sadar gizi, pola asuh, dan pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan,” jelasnya.
Dengan tahapan terstruktur dari riset, edukasi, inovasi, hingga aksi dan evaluasi berkala, Cluring Ceria diharapkan menjadi model penanganan stunting berbasis partisipatif di Banyuwangi.
Jika berjalan sesuai rencana, program ini akan mulai diterapkan penuh pada Oktober 2025, dan hasil evaluasinya akan diumumkan pada akhir tahun.
“Kami berharap Cluring bisa menjadi contoh bagi kecamatan lain. Karena kita semua bertanggung jawab mencetak generasi sehat, cerdas, dan ceria untuk masa depan Banyuwangi,” pungkas Camat Tri Wahyu.




