Abdurrahman Fahmi: Dari Penantian Panjang Hingga Bintang Panggung BEC

Abdurrahman Fahmi Kebanggan Banyuwangi
Abdurrahman Fahmi Kebanggan Banyuwangi

Filesatu.co.id, BANYUWANGI | SENYUM dan tawa tak pernah luntur dari wajah Abdurrahman Fahmi, pemuda kelahiran 9 Februari 2005 asal Banyuwangi. Semangatnya tak pernah kendor, bahkan setelah dua kali melewati seleksi ketat Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tanpa hasil. Kini, mimpinya yang sempat terpendam sejak bangku sekolah telah terwujud, dan ia berhasil memukau penonton dengan penampilan memukaunya di panggung BEC.

Pada Sabtu (12/7/2025), Fahmi kembali tampil untuk kedua kalinya di ajang bergengsi ini, mengusung tema ‘Ngelukat’ yang sarat makna kebudayaan Banyuwangi. Penampilan perdananya di tahun 2024 sudah sangat memukau, dan kini, ia kembali berdiri tegak dengan penuh kebanggaan.

Bacaan Lainnya

Perjalanan Penuh Perjuangan

Menjadi peserta BEC bukanlah hal mudah. Fahmi mengakui bahwa seleksi untuk festival ini sangat ketat. Ia sempat mencoba di tahun 2022 dan 2023, namun keberuntungan belum berpihak padanya. Kendati demikian, kegagalan tidak menyurutkan semangatnya. Dengan tekad yang kuat, akhirnya di tahun 2024, pintu BEC terbuka untuknya.

Bagi putra ketiga pasangan Gatot Kurnianta dan Riva Azwarini ini, keikutsertaannya di BEC lebih dari sekadar ajang unjuk diri. Ini adalah bentuk manifestasi cintanya terhadap tanah kelahirannya, Bumi Blambangan, serta seni dan budaya yang mengakar kuat di sana.

“Saya sebagai pemuda di Banyuwangi ingin ikut serta dalam mengembangkan seni dan budaya Banyuwangi,” tutur Fahmi dengan raut wajah gembira usai mengikuti acara BEC. “Melalui ajang festival ini, saya sangat berharap besar dunia melihat aneka ragam kebudayaan dan kesenian yang ada di Kota Banyuwangi tercinta ini.”

Dedikasi dan Pesan Inspiratif

Ketertarikan Fahmi pada BEC juga didorong oleh kreativitas dan inovasi busana yang selalu disesuaikan dengan tema. Untuk tampil maksimal, persiapan Fahmi tidaklah main-main. Ia selalu menjaga komunikasi intensif dengan orang tua dan tim kreatornya.

“Pesan saya kepada para pemuda, kalau ingin sukses dalam segala hal, jangan pernah malu untuk meminta doa kedua orang tua dan juga ajak untuk berdiskusi. Jangan pernah lelah untuk meminta nasihat orang tua,” tambah Fahmi, membagikan kunci suksesnya.

Pada BEC 2025 kali ini, Fahmi membawakan kostum yang berfokus pada tema Sunatan. Kostumnya dirancang dengan penuh detail, menampilkan hiasan layaknya dekorasi kuda atau jaranan yang sering dijumpai dalam kegiatan kampung di Banyuwangi. Kostum yang dibawakan Fahmi seolah menggambarkan seorang anak yang baru selesai disunat dan diarak sambil menaiki kuda, sebuah tradisi yang masih dijaga di beberapa daerah, khususnya Banyuwangi.

Dukungan Keluarga, Kunci Keberhasilan

Kebanggaan tak hanya dirasakan Fahmi, tetapi juga oleh kedua orang tuanya. “Kami selaku orang tua dari Fahmi sangat bangga. Ia anaknya pantang menyerah dan selalu bersemangat, apa yang ia inginkan selalu ia kejar,” ujar sang ayah, Gatot Kurnianta. “Saya selaku orang tuanya selalu memberikan motivasi sekaligus mendukung apa yang selalu diinginkan anak saya. Semoga doa dan dorongan dari orang tua bisa membawa Fahmi menuju kesuksesan. Amin. Ini adalah proses bagi Fahmi untuk mewujudkan kedewasaan dan kemandirian.”

Perjuangan dan penampilan Fahmi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pemuda lainnya untuk selalu berkomunikasi serta meminta doa dari kedua orang tua, menjadikan dukungan keluarga sebagai pilar utama dalam meraih impian.

 

Tinggalkan Balasan