Banjir Karangligar Karawang: Krisis Abadi 3 Meter, Sri Rahayu Tuntut Perbaikan Pintu Cidawolong

Anggota DPRD Jawa Barat Sri Rahayu Agustina saat meninjau kondisi warga terdampak banjir di Desa Karang Ligar Karawang
Anggota DPRD Jawa Barat Sri Rahayu Agustina saat meninjau kondisi warga terdampak banjir di Desa Karang Ligar Karawang

Filesatu.co.id, KARAWANG | MASALAH banjir tahunan yang merendam Desa Karang Ligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, kembali menjadi sorotan tajam di awal tahun 2026. Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar, Sri Rahayu Agustina, melakukan peninjauan langsung ke titik terdampak paling parah di Dusun Kampek guna memantau kondisi warga sekaligus menyalurkan bantuan darurat yang sangat dibutuhkan.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, terungkap fakta memprihatinkan bahwa meskipun berbagai upaya mitigasi telah dilakukan oleh pemerintah daerah, warga Karangligar masih terjebak dalam siklus bencana yang seolah tanpa akhir. Ketinggian air yang mencapai angka fantastis menuntut adanya langkah konkret yang lebih dari sekadar bantuan logistik atau solusi hunian sementara seperti rumah panggung.

Bacaan Lainnya

Saat tiba di lokasi bencana, Sri Rahayu Agustina mendapati fakta lapangan yang menggetarkan. Debit air yang sangat tinggi menyebabkan banjir merendam pemukiman dengan kedalaman mencapai kurang lebih 3 meter di titik terendah. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode banjir pada tahun-tahun sebelumnya, yang menandakan bahwa sistem drainase di wilayah Telukjambe Barat sudah tidak mampu lagi menampung kiriman air dari hulu.

“Banjir kali ini sangat besar dan luar biasa dampaknya. Meskipun rumah panggung bantuan pemerintah sudah ditinggikan sekitar 2,5 meter, air masih naik sekitar setengah meter ke dalam area rumah. Ini berarti ketinggian air hari ini sudah mencapai angka 3 meter,” ujar Sri Rahayu saat berdialog secara emosional dengan warga di Dusun Kampek. Rabu (21/01-25)

Kondisi ini diperparah dengan frekuensi banjir yang sangat tinggi. Warga mengeluhkan bahwa dalam satu tahun, desa mereka bisa terendam banjir sebanyak 15 hingga 20 kali. Bahkan, mirisnya, hanya dalam rentang waktu 10 hari setelah air banjir sebelumnya surut, air kiriman kembali masuk dengan volume yang lebih besar, menghancurkan harta benda yang baru saja dibersihkan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya telah membangun sedikitnya 24 unit rumah panggung sebagai upaya mitigasi awal agar warga tetap memiliki tempat tinggal saat banjir tiba. Namun, legislator perempuan dari Fraksi Golkar ini menilai solusi tersebut belum cukup komprehensif untuk mengatasi penderitaan masyarakat secara permanen.

Meskipun rumah panggung memberikan perlindungan sementara, kenyataan bahwa air tetap masuk ke dalam hunian setinggi 50 cm membuktikan bahwa elevasi bangunan tersebut masih kalah oleh tinggi muka air banjir saat ini. Rencana pembangunan tambahan 15 unit rumah panggung di wilayah Pangasinan memang tetap akan dijalankan, namun Sri Rahayu menekankan bahwa kebijakan ini hanyalah solusi jangka pendek.

“Rumah panggung itu solusi agar warga tidak kedinginan dan punya tempat berteduh, tapi bukan solusi untuk menghentikan banjir itu sendiri. Fokus kita harus beralih ke perbaikan infrastruktur air,” tegasnya.

Berdasarkan riset mendalam bersama BPBD Kabupaten Karawang yang telah dilakukan sejak tahun 2014, Desa Karangligar secara geografis memang berada di wilayah cekungan pertemuan sungai. Namun, faktor alam ini seharusnya bisa diantisipasi dengan rekayasa infrastruktur yang memadai.

Ada tiga poin utama yang didorong oleh Sri Rahayu Agustina kepada Pemerintah Provinsi Jabar dan Pemerintah Pusat untuk segera direalisasikan pada tahun anggaran 2026:

  1. Perbaikan Pintu Air Cidawolong: Pintu air ini memegang peranan krusial dalam mengatur debit air yang masuk ke pemukiman warga. Kondisinya saat ini butuh modernisasi agar mampu menahan laju air kiriman.
  2. Optimalisasi Pintu Air Pendukung: Selain Cidawolong, terdapat beberapa pintu air kecil di sekitarnya yang kondisinya terbengkalai dan perlu segera diperbaiki agar berfungsi maksimal saat musim penghujan.
  3. Pembenahan Sistem Drainase Terpadu: Seluruh saluran pembuangan air di Karang Ligar harus dinormalisasi, dikeruk, dan ditata ulang agar air dapat mengalir lancar menuju sungai utama tanpa hambatan sampah atau pendangkalan.

“Pemerintah Daerah, Provinsi, maupun Pusat harus satu suara. Solusinya bukan hanya menambah rumah panggung. Pintu air Cidawolong dan drainase harus segera diperbaiki secara konkret dengan teknologi pompa yang mumpuni,” tambahnya. Ia juga menyoroti dampak lingkungan dari aktivitas pengeboran di sekitar lokasi yang harus dievaluasi korelasinya dengan banjir di Karangligar

Selain menjalankan fungsi pengawasan legislatif, Sri Rahayu Agustina juga membawa bantuan kemanusiaan hasil kolaborasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat serta bantuan dari dana pribadi. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban psikis dan fisik warga yang kini terisolasi.

Paket bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok seperti bahan pangan (mie instan, air mineral, makanan cepat saji), perlengkapan kesehatan dan sanitasi, hingga logistik tidur seperti matras dan selimut. Tidak ketinggalan, perlengkapan khusus bayi, lansia, dan baju layak pakai juga didistribusikan langsung ke posko pengungsian.

Sebagai anggota DPRD Jabar, Sri Rahayu berkomitmen untuk tidak membiarkan masalah Karangligar hanya berhenti di kunjungan lapangan. Ia berjanji akan mengoordinasikan temuan ini dengan rekan-rekan di Komisi IV yang membidangi infrastruktur dan Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat.

“Kami di Komisi I akan mengawal masalah ini agar ditemukan solusi teknis permanen. Masyarakat Karawang sudah lelah dengan janji. Kita harus sinkronkan anggaran pusat dan daerah untuk menyelamatkan Karang Ligar dari bencana abadi,” pungkasnya optimis. ***

 

Tinggalkan Balasan