Usai Gowes, Para Pakar: Kuliah Gratis Sambil Ngopi di Form Kios Makmur 

Oplus_131072

Filesatu.co.id, Kudus | Suasana Ahad pagi, 8 Februari 2026, di BG Farm Kios Makmur, Wergu wetan, Kota Kudus, tampak berbeda dari biasanya. Gubug sederhana di tengah aktivitas UMKM itu mendadak menjadi ruang diskusi ilmiah yang hangat. Tanpa podium, tanpa spanduk, namun sarat makna—sebuah kuliah gratis berlangsung sambil menikmati pecel, singkong mentega hangat, dan kopi khas BG.

Bacaan Lainnya

Usai bersepeda santai, sejumlah doktor, pakar hukum, dan praktisi pendidikan singgah dan berkumpul. Hadir Dr. Carto Nuryanto, doktor ahli hukum syariah yang juga dosen dan seorang perwira, rektor Universitas Safin yang dikenal sebagai entrepreneur dan owner Kampung Kutho Purwosari Kudus, Anton, mantan Kabid Humas Polres Kudus, serta para pegiat sosial dan pendidikan seperti Ustadz Muhamin, Kang Taufiq, Mas Warno, dan Mas Hanif, aktivis HMI yang kebetulan sudah berada di lokasi.

Diskusi makin hidup dengan lalu-lalang para pelaku UMKM yang sedang berbelanja kebutuhan pakan ayam, tela mentega, dan hasil pertanian lainnya. Obrolan pun mengalir ngalor-ngidul—mulai dari persiapan kegiatan sosial masyarakat, ekonomi kerakyatan, hingga refleksi nilai kepemimpinan dan dakwah.

Di sela perbincangan santai itu, Mas Warno berkelakar, “Wah, ini ada kuliah gratis nih.” Candaan itu justru menjadi pembuka paparan bernas dari Dr. Carto Nuryanto.

Dalam pemaparannya, Dr. Carto mengangkat kisah Nabi Ibrahim, AS sebagai teladan strategi dakwah, diplomasi, dan politik bernilai tinggi. Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim bukan hanya seorang nabi, tetapi juga figur cerdas ahli dialog, diplomasi, dan debat yang mampu “men-skakmat” Raja Namrud, penguasa zalim di masanya.

Kisah itu diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran abadi. Saat menghadapi Raja Namrud yang korup, menindas rakyat, dan memaksakan penyembahan berhala, Nabi Ibrahim tidak menggunakan kekerasan, melainkan pendekatan wajadilhum billati hiya ahsan berdialog dengan cara terbaik.

Dikisahkan, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung kecil dan menggantungkan kapak pada patung terbesar. Ketika dituduh sebagai pelaku, beliau justru menjawab dengan logika sederhana  namun menusuk

“Tanyakan saja pada patung besar itu.” Jawaban ini memaksa Raja Namrud mengakui bahwa patung tidak bisa berbuat apa-apa sekaligus menyadarkannya akan kebatilan keyakinannya sendiri.

“Di situlah kekuatan dakwah Nabi Ibrahim,” tutur Dr. Carto.

“Bukan pada emosinya, tetapi pada kecerdasan logika, etika dialog, dan keberanian moral.” tambahnya.

Diskusi pagi itu menjadi pengingat bahwa dakwah, pendidikan, dan perubahan sosial tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal. Kadang justru tumbuh dari gubug sederhana, secangkir kopi, dan obrolan jujur yang membumi.

BG Farm Kios Makmur pagi itu tak hanya menjadi tempat singgah pesepeda, tetapi juga ruang belajar kehidupan tempat ilmu, hikmah, dan kebersamaan bertemu tanpa sekat.

Tinggalkan Balasan