Filesatu.co.id, Banyuwangi |Grebek Suro untuk memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 H atau 1 Suro dalam kalender Jawa mayarakat dusun Stembel Desa Gambiran yang dipandegane Kusno Kusno Hadi Pribawaono alias Mbah Gondrong bersama lintas tokoh menggelar Grebek Suro 1000 Rahayu Jenang Suro. Kamis (24/7/2025).
Didukung semua pihak, perayaan Grebek Suro sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa masyarakat Dusun Stembel ini dengan cara menggelar tradisi Bersih Desa untuk uri-uri budaya mengelar wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Yuwono Lebdocarito dan Ki Dalang Gondo Menyan dengan membawa lakon ”Suro Dino Joyodiningrat Lebur Dining Pangastuti”.
Penyajiannya pada momentum Bersih Desa juga dilakukan jamasan atau penyiraman terhadap Pemimpin dan Lintas Tokoh Desa Gambiran.
”Maka malam ini juga dilakukan Ruwatan, dan ruwatan nanti mengambil kisa Pandawa Lima, jadi yang dilakukan penyiraman lima orang,” ungkap Ki Yuwono.
Terkenal dengan Dalang energik dalam memainkan wayang, Ki Yuwono menjelaskan filosofi yang dilakonkan. Menurutnya Lakon Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang mengambil kisah peperangan Bharatayudda selama 16 hari.
Digambarkan dalam peperangan tersebut terjadi karena keambisian Kurawa untuk menguasai Kerajaan Astina dengan cara menyingkirkan Pandawa setelah pulang dari pengasingan.
Peperangan tersebut, Kurawa yang dipimpin oleh Duryodana, menolak memberikan hak kerajaan kepada Pandawa. ” Duryodana, dengan dukungan pamannya Sangkuni, melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Pandawa, termasuk upaya pembunuhan,”tambah Ki Yuwono.
Sementara, kubu Pandawa, yang dipimpin oleh Yudhistira, menuntut hak mereka atas kerajaan dan merebutnya kembali sehingga peperangan tidak dapat terelakan yang terjadi di padang Kurusetra sebuah wilayah yang dianggap suci.
”Kedua belah pihak mengerahkan pasukan terbaik mereka, termasuk para kesatria dan ahli strategi, seperti Bhisma, Drona, Karna, dan Aswatama di pihak Kurawa, serta Krishna, Arjuna, Bima, dan Nakula-Sadewa di pihak Pandawa.
”Dan Perang Bharatayuddha berakhir dengan kemenangan pihak Pandawa ‘ tambahnya.
Dengan kemenangannya, Pandawa boyong ke hastina dan menduduki tahta, namun masih ada satu orang Kurawa dan anak Drona yaitu Kartomarmo dan Aswatama yang membuat teror. Dengan berbagai cara membalaskan dendam dan akan membunuh Parikesit yang baru lahir.
‘Maka dengan kekuatan kelicikan dia, teroris tersebut menjadi jalan kematian kartomarmo dan Aswatama yang mati kena panah di samping bayi Parikesit,’ jelas Ki Dalang.
Kisah ini juga kata Ki Dalang Yuwono juga menjadi pesan moral terhadap manusia, menurutnya, filosofi cerita Mahabarata seri Bharatayudda ini bisa diartikan sekuat apapun jika jiwa Angkara akan sirna atas semua laku darma.
”Begitu juga manusia secara spiritual jika bisa melawan nafsu yang ada di diri nya maka menjadi manusia yang istimewa, pentingnya persatuan dan kesetiakawanan, serta dampak buruk dari perseteruan saudara” pungkasnya.





