Filesatu.co.id, SIDOARJO | DESA Pademonegoro, Kecamatan Sukodono, kembali menggelar tradisi Ruwat Desa sebagai wujud syukur sekaligus ikhtiar spiritual untuk menjaga keselamatan kampung halaman. Tradisi bersih desa yang dibalut umbul dungo serta pagelaran wayang kulit ini bukan sekadar agenda tahunan, namun menjadi titian doa yang melangit, penanda kebersamaan, serta upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehendak Tuhan.
Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis nilai tradisi, masyarakat Pademonegoro tetap teguh merawat warisan leluhur sebagai perekat sosial dan benteng moral. Ruwatan dipahami sebagai bentuk penyucian diri dan lingkungan, sekaligus permohonan agar desa dijauhkan dari marabahaya, diberi ketenteraman, dan dilimpahi kesejahteraan.
Sabtu (14/02/2026), rangkaian ruwat desa diawali dengan doa bersama (kenduri) di pendopo balai desa. Setelah itu, acara dilanjutkan pagelaran wayang kulit yang berlangsung sejak siang hingga malam hari, menjadi simbol bahwa tradisi masih hidup dan mengakar kuat.
Pada siang hari, lakon “Wahyu Purbaning Dumadi” ditampilkan sebagai simbol keselamatan kosmis dan keseimbangan alam. Lakon tersebut mengajarkan bahwa kehidupan berjalan atas kehendak Tuhan, sehingga manusia wajib menjaga keteraturan, merawat persaudaraan, serta menghindari tindakan yang merusak harmoni sosial maupun lingkungan.
Memasuki malam, suasana semakin sakral saat lakon utama “Wahyu Pamurba Jagad” dipentaskan. Lakon ini dimaknai sebagai anugerah ilahi yang memberi legitimasi kepemimpinan yang sah, adil, dan bijaksana. Pesan moralnya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan semata kekuasaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan masyarakat.
Pagelaran dibawakan Dalang Ki Pringgo Jati, S.Sn, dengan iringan Campursari Pandawa Laras Indonesia. Alunan gamelan dan tembang menambah kekhidmatan suasana. Kegiatan dihadiri Forkopimcam Sukodono, kepala desa se-Kecamatan Sukodono, perangkat desa, BPD, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.
Camat Sukodono Ineke Dwi Setiawati, S.STP, M.PA, mengapresiasi kekompakan warga dalam melestarikan tradisi. Ia menilai ruwat desa sebagai warisan budaya yang penting diwariskan kepada generasi muda.
Sementara itu, Kepala Desa Pademonegoro Ispriyanto turut menyampaikan sosialisasi pembayaran PBB P2 Tahun 2026. “Ayo Bayar PBB P2 Tepat Waktu! Kanggo Pembangunan Desa Pademonegoro Sing Luwih Maju lan Sejahtera,” ajaknya.
Rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga dini hari,” pungkasnya. ***





