Filesatu.co.id, SIDOARJO | DINAMIKA internal kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang kian menghangat memantik keprihatinan berbagai elemen masyarakat. Dalam merespons situasi tersebut, Aliansi Peduli Sidoarjo (APS) terdiri dari dua belas LSM dan Ormas menempuh pendekatan kultural dan spiritual dengan bersilaturahmi ke kediaman Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH. M. Zainal Abidin, M.Pd., di Desa Wadungasri, Kecamatan Buduran, Selasa sore (31/3/2026).
Kunjungan yang bertepatan dengan suasana Idulfitri 1447 Hijriah itu tidak sekadar menjadi ajang halal bihalal, tetapi juga membawa misi memohon restu dan dukungan moral untuk mendorong terwujudnya ishlah (rekonsiliasi) antara Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo yang dinilai tengah mengalami ketegangan komunikasi.
Perwakilan APS, Waldy, menyampaikan bahwa momentum Idulfitri sejatinya menjadi ruang untuk saling memaafkan dan menata ulang niat dalam mengemban amanah kepemimpinan. Ia menilai disharmoni di tingkat pucuk pimpinan berpotensi menghambat jalannya pelayanan publik dan pembangunan daerah.
“Dalam semangat kembali ke fitrah, sudah semestinya para pemimpin menanggalkan ego sektoral. Kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Kami berharap para tokoh sepuh, khususnya dari NU, dapat menjadi penyejuk sekaligus jembatan menuju perdamaian,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sugeng, yang menegaskan bahwa langkah APS menggandeng tokoh agama merupakan ikhtiar mengetuk nurani para pemimpin melalui pendekatan adab dan nilai-nilai keislaman.
“Sidoarjo dikenal sebagai kota santri. Maka penyelesaian persoalan kepemimpinan pun semestinya meneladani nilai-nilai hikmah, musyawarah, dan persaudaraan. Rakyat membutuhkan keteladanan, bukan konflik berkepanjangan,” kata dia.
Menanggapi hal tersebut, KH. M. Zainal Abidin menyambut baik inisiatif APS. Ia menekankan pentingnya menjaga kemaslahatan umum sebagai prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujar beliau
“Dalam ajaran Islam, ishlah adalah jalan mulia untuk menyelesaikan perselisihan. Jika komunikasi tersumbat, maka perlu dibuka dengan hati yang lapang dan niat yang tulus demi kemaslahatan bersama,” tuturnya.
Ia juga menyatakan kesiapan PCNU Sidoarjo untuk berperan sebagai pengayom umat dalam menjaga kondusivitas daerah, termasuk melalui langkah-langkah persuasif yang menyejukkan.
Upaya APS ini mencerminkan harapan masyarakat agar para pemimpin daerah dapat kembali duduk bersama, merajut kebersamaan, dan mengedepankan kepentingan publik. Dalam suasana Idulfitri yang sarat makna pengampunan, publik menanti langkah nyata menuju rekonsiliasi demi keberlanjutan pembangunan Sidoarjo. ***





